Motivasi

Meningkatkan Motivasi Menulis Buku
Oleh: SUKARNO, SIP, SS

Dalam melakukan aktivitasnya, setiap orang biasanya mempunyai motivasi tertentu. Demikian pula dengan aktivitas menulis buku. Setiap orang bisa jadi mempunyai motivasi yang sama. Tapi bisa jadi motivasinya berbeda.
Saya sendiri pada awalnya menulis buku dengan motivasi untuk mengamalkan ilmu yang dimiliki. Hal ini menurut saya, termasuk bagian dari ibadah yang dapat saya lakukan. Dengan mengamalkan ilmu kepada masyarakat luas, hati menjadi terasa lebih puas.
Kalaupun penulis mendapatkan tambahan penghasilan, popularitas, dan apresiasi dari para pembaca, itu merupakan hal yang patut disyukuri. Mungkin tidak sedikit penulis yang motivasinya sama.
Meskipun demikian kita harus menghormati penulis yang lain meskipun motivasinya berbeda dengan kita. Ada pula penulis yang mempunyai motivasi ekonomi. Saat ini kita dapat mengatakan bahwa pekerjaan menulis telah menjadi profesi bagi sebagian orang. Penulis dapat dijadikan pekerjaan utama. Seperti halnya pekerjaan sebagai dokter, pengajar, petani, pedagang, pengusaha, politisi, wartawan, pegawai, dll. Karena itu, tentu saja ada penghasilan yang diharapkan. Tiap penulis dapat mempunyai penghasilan yang sama atau berbeda.
Ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Misalnya, jumlah karya tulis berupa buku yang dihasilkan. Semakin banyak jumlah judul buku yang diterbitkan, penghasilan pun akan kian meningkat. Selain itu, faktor laris atau tidaknya buku juga penting diperhatikan. Beruntung sekali kalau semua buku yang ditulis laris di pasaran alias best-seller. Penulis dapat menjadi orang yang kaya raya.
Contoh penulis sukses yang menulis buku berbahasa Inggris yaitu, JK Rowling di Inggris, John Grisham di Amerika Serikat. Di Indonesia ada pula penulis yang berhasil menangguk penghasilan relatif besar, misalnya Habiburrahman El-Shirazy, Andrea Hirata, Langit Kresna Hariadi. Bahkan Habiburahman El-Shirazy telah mendapatkan penghargaan dari Insani Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Motivasi lainnya, misalnya popularitas. Orang mengenal penulis dari karya-karyanya. Dengan menghasilkan karya, seseorang akan semakin dikenal. Tidak sedikit penulis yang meskipun baru menghasilkan satu buku, tetapi menjadi sangat terkenal karena karyanya tersebut.
Selain itu, tak jarang seorang tokoh yang akan mencalonkan diri sebagai pemimpin, juga menulis autobiografi. Isinya dapat menampilkan berbagai kiprah dan pengalamannya sehingga layak dipilih menjadi pemimpin.
Jonru (2008: 16) mengungkapkan bahwa hal yang paling menggiurkan dari pekerjaan menulis buku sebenarnya adalah hal-hal yang lebih bersifat efek samping. Salah satu di antaranya adalah kredibilitas. Setelah buku Anda terbit maka masyarakat akan langsung melihat Anda sebagai seseorang yang kredibel di bidang tertentu. Jika Anda menulis tentang “cara merakit komputer”, Anda akan segera mendapat gelar “ahli perakitan komputer”. Apalagi jika buku tersebut laris di pasaran dan menjadi pembicaraan di mana-mana, kredibilitas Anda akan makin meningkat.

Penulis atau pengarang di Indonesia
Dari karya yang dihasilkan, penulis atau pengarang akan relatif dikenal para pembaca. Orang dapat mengenal Chairil Anwar, WS Rendra, Sutardji Calzoum Bahri, Afrizal Malna karena membaca puisi-puisi yang ditulisnya. Pengalaman Rendra menempuh kuliah di jurusan Sastra Inggris tentunya sangat berharga. Demikian pula dengan Prof Sapardi Joko Damono, yang dulu menjadi dosen Sastra Inggris Undip kini mengajar di beberapa perguruan tinggi dan dikenal pula sebagai sastrawan.
Pramoedya Ananta Toer, Ajip Rosidi, NH Dini juga dikenal luas dari karya sastra yang ditulisnya. Prof Amien Rais, Arbi Sanit dapat dikenali melalui tulisan-tulisan bertema politik yang bermutu. Prof Satjipto Raharjo, Prof Muladi dikenal sebagai pakar hukum terkemuka yang juga menulis buku. Prof Eko Budihardjo dikenal sebagai pakar tata kota dari buku yang ditulisnya. Prof Sudharto P Hadi dikenal sebagai pakar lingkungan dari berbagai tulisannya. Yudiono KS dikenal sebagai akademisi sastra (dosen senior) yang produktif menulis buku. Selain itu, para penulis pada penerbitan Universitas Terbuka juga telah menghasilkan banyak judul buku atau modul yang berkualitas.
Sementara itu, menurut Yudiono KS (2010: 7) sejarah atau tradisi kepengarangan Indonesia sebenarnya menempatkan pengarang atau sastrawan sebagai kelompok elite terpelajar dengan pemikiran-pemikiran yang hebat, tetapi belum dipahami atau diserap masyarakat menengah ke bawah yang kehidupan sosial ekonominya tetap saja terbatas.
Apa pun motivasi orang dalam menulis, selama baik dan bermanfaat bagi umat, bangsa dan negara, tentu layak diapresiasi. Selamat menulis!

Related product you might see:

Share this product :

Post a comment

 
Support : Sukarno Pressindo | Fatimah Pressindo | Putri Boga
Copyright © 2011. Penerbit Sukarno Pressindo - All Rights Reserved
Template Created by Sukarno Pressindo Published by Fatimah Pressindo
Proudly powered by Sukarno